Melihat Dunia Tanpa Mata
HUMAN INTEREST
Melihat Dunia
Tanpa Mata
Berbagai cerita inspiratif telah banyak di dengar dari berbagai figur berkebutuhan khusus. Salah satunya yaitu Miftahus Salamah (19th), perempuan cantik kediaman Sambiroto, Sooko, Mojokerto ini terlahir kurang beruntung layaknya manusia biasa. Dia terlahir dalam kondisi tidak dapat melihat (tuna netra). Meskipun begitu, dengan keterbatasanya dia pun memiliki cita-cita yang luar biasa, yaitu menghafal kita suci Al-Qur'an. Dan saat ini mimpinya sudah sedikit demi sedikit di realisasikan.
Mifta, panggilan akrab untuknya. Mifta merupakan lulusan tahun 2017 dari SLB Semesta Llhuarrr Biasa yang bertempat di Kedung Maling, Sooko, Mojokerto. Keinginannya untuk menghafal Al-qur'an memang sudah dimilikinya sejak kecil akan tetapi baru direalisasikan saat kelas 1 SMA, tepatnya 2014 karena di masa itulah dimana mifta mendapat dukungan dari pihak sekolah dan orang tua.
Saat Perempuan kelahiran 24 Juni 1999 ini sudah menghafal hampir 20 juz yang ada dalam Al-Qur'an. Untuk menghafal Al-qur'an pun dia tidak mempunyai teknik-teknik rahasia, akan tetapi teknik menghafal yang dilakukan yaitu sama dengan para khufad lainya, rajin membaca dan menghafal setiap harinya. Sama seperti saat kita temui, dia sedang berada di sanggar menghafal yang mana dia akan mengechek hafalanya pada gurunya (setoran baca'an)
Saat saya bertanya "bagaimana cara mifta menghafal mungkin ada teknik-teknik tersendiri?"
"Tidak mbak, saya tidak mempunyai teknik khusus. Saya penghafal biasa yang bermodalkan nderes setiap hari" Jawabnya untuk menimpali pertanyan saya
"Nderesnya disini setiap hari?"
"Iya, dari jam 7 sampai selesai maghrib disini, tapi ini baru saja, dulu-dulu menghafalnya hanya sebentar saat pulang sekolah sampai jam 2 kadang jam 3 sore. Karena sudah lulus jadi saya memutuskan memilih lebih banyak waktu untuk fokus menghafal."
Tidak hanya menghafal al-qur'an, di samping penghafalannya mifta juga sering mengikuti lomba-lomba membaca Al-qur'an (Qiro'ah). Di akhir tahun ini dia berhasil meraih juara 2 qiro'ah khusus disabilitas tingkat Provinsi. Sesuatu pencapaian yang luar biasa bagi penyandang cacat , yang mana tidak semua orang dapat mencapainnya termasuk kita yang terlahir normal.
![]() |
| Foto: Saat Mifta mencoba membacakan ayat Al-Qur'an |
Dia akan terus belajar dan melakukan apapun yang dia bisa dengan keterbatasannya. Saya tertegun saat dia mengatakan bahwa dia juga bisa bermain orgen, andaikan saja saat itu ada alatnya, saya akan meminta dia memainkannya dengan diiringi suara merdunya. Dia juga punya kemampuan memijit yang enak sekali. Kepiawaiannya dalam memijit ini adalah bekal dari pelatihan yang diikuti dulu di program sekolahnya.
Jika berbicara kemampuan, banyak sekali yang Mifta mampu lakukan dengan keterbatasannya. Kegiatan-kegiatan yang tak kalah hebatnya dengan manusia normal pun dapat dilakukanya sebagai tuna netra.
Saat saya bertanya apa yang dia rasakan menjadi tuna netra diapun memberikan jawaban yang membuat saya tertampar,
"Ya biasa saja, sama seperti yang lainnya hidup saya seperti ini adalah qadarulloh. Jika ditanya pernah merasa iri? ya saya pernah merasakan itu, akan tetapi kembali pada ketentuan Tuhan lagi. Jika ini yang di tentukan Tuhan untuk saya ya berarti ini yang terbaik untuk saya. Jikapun saya dilahirkan sebagai manusia normal belum tentu saya bisa mendapatkan dan merasakan apa yang saya miliki sekarang. Intinya bersyukur saja mbak, apa yang bisa dilakukan ya saya coba lakukan"
Dari kisah cerita mifta inilah saya dapat mengerti arti melihat dunia tanpa mata, semua dapat dilakukannya dengan mudah meskipun tanpa adanya penglihatan yang dia miliki. Satu hal yang memang harus di tanamkan dalam diri ini "Bersyukur" , dengan segala hal yang kita miliki kelebihan dan kekurangan pada diri kita, semua manusia memang tidak ada yang sempurna. Bersyukur, ikhlas menerima, dan melakukan yang terbaik sebisa kita adalah kunci hidup. (Es.eM)

Comments
Post a Comment