Memanfaatkan Lumpur Menjadi Lahan Uang

Lumpur yang di mata masyarakat biasa tidak ada nilainya, namun di tangan keluarga Ngataji (57), warga Dusun Mlaten RT.01, Kelurahan Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini, lumpur lapindo bisa diolah menjadi sesuatu yang bernlai ekonimis. Pengerajin gerabah ini sudah 5 tahun menemukan inovasi baru membuat gerabah dari bahan lumpur yang diperoleh dari lumpur lapindo.
Misalnya lumpur lapindo ini diubah menjadi kerajinan gerabah seperti, cobek, kendi, gentong, kuali serta vas bunga. Menurut Ngataji ide ini diperoleh dari kegemarannya mecoba hal-hal baru. Bermodalkan iseng ia lalu mencoba lumpur lapindo sebagai bahan membuat gerabah. Selanjutnya, di rumah yang juga menjadi lokasi usahanya, lumpur lapindo tersebut berusaha diolahnya dengan aneka kerajinan gerabah.
“Saat pertama kali saya mencoba tanpa campuran apa-apa, awalnya sih ngga ada masalah tapi setalah sampai pada tahap pembakaran tiba-tiba gerabah yang terbuat dari lumpur lapindo itu meletus semua” ujar Ngataji, Minggu (9/12/2018).
Bagi Ngataji gagal sudah manjadi makanan sehari-hari, dalam mancoba percobaan ini, pria yang kerap disapa Cak Ji ini mengaku banyak mengalami kegagalan sampai pada akhirnya menemukan campuran yang pas untuk membuat gerabah dari bahan lumpur lapindo ini.
Dalam sehari Ngataji bisa membuat 1 macam gerabah sebanyak 10-15 buah yang dibantu oleh dua putri kandungnya. “ Proses pembuatan gerabah lumpur lapindo ini rumit kalau dibandingkan dengan gerabah tanah liat, dari awal penyaringan lumpur sampai pencampuran bahan–bahan harus sesuai, karena kalau tidak bisa meletus saat di bakar” tutur Ngataji.
Untuk harga jual gerabah yang terbuat dari bahan lumpur lapindo ini, dia mematok harga lebih tinggi 2-3 kali lipat dari gerbah yang terbuat dari tanah liat. Pasalnya, gerabah yang terbuat dari lumpur lapindo ini memiliki ketahanan lebih kuat dan tahan lama daripada gerabah tanah liat pada umumnya. “Kalau gerabah ini bisa tahan air, jadi ngga gampang keropos dan berlumut” ungkap bapak dua putri ini.
Produk gerabah dari bahan lumpur lapindo ini diminati pembeli bukan hanya dari wilayah Mojokerto saja tetapi sampai ke luar kota, bahkan luar pulau “pembelinya sih macam-macam, ada yang dari Surabaya, Jember, sampai Kalimantan” papar Ngataji.
(amn)
Comments
Post a Comment