Fungsi PERS
di posting oleh : Zukha Mega P. (51703050032)
UNDANG
UNDANG TENTANG PERS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 40 TAHUN 1999
TENTANG
PERS
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Pasal 3
- Pers
nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan dan kontrol sosial.
- Disamping
fungsi-fungsi tersebut ayat 1 pers nasional dapat
berfungsi sebagai lembaga ekonomi.
contohnya
1. Media Informasi
Gemar Membaca di Jabar Selalu
Meningkat
Terjadi
peningkatan sekitar sepuluh persen terhadap gemar membaca masyarakat di Jawa
Barat. Persentase gemar membaca tahun ini mencapai 60 persen sedangkan tahun
lalu hanya 50 persen. Peningkatan tersebut salah satunya, tidak terlepas dari
peran serta satuan kerja perangkat daerah yang bisa mengajukan permintaan buku
langsung kepada para penerbit.
Hal tersebut
dikatakan Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jabar yang diwakili
Supervisor Grafindo, Dias Syaefulloh, saat ditemui di sela-sela acara Pameran
“SCOPE” Indonesia 2010 mengenai pendidikan dan karir, di Sabuga Convention
Hall, Kamis (1/7). Menurut dia, Perangkat daerah seperti kepala desa, serta
kecamatan yang mewakili masyarakatnya bisa berkoordinasi dengan penerbit
melalui Ikapi Jabar.
“Koordinasi
tersebut dilakukan untuk mengetahui berapa banyak permintaan buku yang diminta
masyarakat. Selain itu, Ikapi sendiri mempunyai program khusus untuk memberikan
buku kepada masyarakat yang kurang mampu. Pemberian buku tersebut bisa berupa
buku sekolah maupun nonsekolah. Buku sekolah seperti buku pelajaran TK, SD, SMP
serta SMA. Sedangkan nonsekolah bisa seperti komik,” kata Dias.
Sementara
itu, menurut Staff Trainer Genius Mind Consultancy (GMC) Bandung, Anzar
Sumingkar,mengembangkan keilmuan melalui pendidikan nonsekolah tidak sekedar
didapatkan dari buku tapi juga bisa melalui kursus serta pelatihan. Dengan
adanya pendidikan nonsekolah ternyata mampu meningkatkan prestasi akademik di
sekolahnya.
“Pendidikan
nonsekolah kepada anak-anak bukan hanya belajar, tapi bisa dengan bermain.
Karena, dengan bermain ternyata bisa membuka otak tengah. Namun, aktifasi otak
tengah juga harus didukung dengan menggunakan musik,” ujar Anzar
Anzar
mengungkapkan, otak tengah adalah jembatan yang menghubungkan dan
menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan. Mengaktifkannya akan memungkinkan baik
otak kiri maupun kanan berfungsi secara optimal. Pengaktifan otak tengah
mengembalikan kekuatan otak pada keadaan semulanya.
Mengembangkan
keilmuan melalui alternatif nonsekolah melalui metode pelatihan atau kursus
dengan menggunakan musik yang sudah dikembangkan GMC ternyata mampu
meningkatkan konsentrasi, serta memori mereka dalam belajar. (CA-05/kur)***
Artikel di atas termasuk media
informasi karena isinya menyampaikan informasi tentang peningkatan gemar
membaca di Jawa Barat.
2. Media Pendidikan
Siklus Tsunami Diperkirakan Empat
Tahun Sekali
Siklus
terjadinya bencana tsunami di Indonesia, diperkirakan terjadi dalam empat tahun
sekali. Hal itu, selain berdasarkan penelitian para pakar tsunami, juga dengan
melihat pengalaman kejadian tsunami sebelumnya di Indonesia.
Demikian
dikatakan pakar Tsunami, Dr. Subandono yang juga menjabat Direktur Pesisir dan
Lautan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam sosialisasi Mitigasi Bencana dan
Milad ke-66 Kabupaten Sukabumi di Alun-alun Palabuhanratu, Sabtu (1/10) malam.
Menurut dia,
siklus bencana tsunami empat tahunan di Indonesia itu, mengacu pada data
kejadian tsunami sebelumnya. Dari tahun 1600 hingga 2011, sudah terjadi 110
kali kejadian tsunami dalam skala cukup besar. Setelah diteliti selama 400
tahun terjadi 110 kali tsunami itu, bisa disimpulkan siklus terjadinya tsunami
rata-rata terjadi selama empat tahun sekali.
Hal itu
diperkuat pula dengan kejadian tsunami di Indonesia, dari mulai Aceh, Padang,
Yogyakarta, Pangandaran dan terakhir tahun 2010 kemarin di Kepulauan Mentawai.
“Jadi kalau
dikaji lebih jauh, siklus terjadinya tsunami itu rata-rata empat tahun sekali.
Akan tetapi, dengan penelitian ini bukan berarti menakut-nakuti, melainkan
justru harus menjadi bahan bagi kita semua untuk senantiasa menjaga
kewaspadaan,” kata Subandono.
Ia menyebutkan, dari 110 kali
kejadian tsunami tersebut, di antaranya terjadi di Aceh, pantai barat Sumatra,
pantai selatan Jawa, pantai selatan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi
Utara dan Papua.
Sedangkan
beberapa daerah rawan tsunami di Indonesia, di antaranya di pantai barat
Sumatra sudah terjadi 20 kali tsunami, pantai selatan Jawa 11 kali, Laut Banda
30 kali, Selat Maluku 32 kali, Selat Makasar 9 kali dan Papua sebanyak 3 kali
“Bagaimana
dengan Pantai Selatan Sukabumi? karena termasuk pantai selatan Jawa, sehingga
pantai selatan Sukabumi pun termasuk ke dalam daerah rawan gempa dan tsunami.
Oleh karena itu, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di
pesisir, termasuk Palabuhanratu, perlu waspada mengantisipasi dan menanggulangi
bencana tersebut,” ujarnya.
Kerawanan
bencana gempa dan tsunami tersebut, lanjut Subandono, sehubungan di daerah itu
terdapat dua lempeng rawan gempa yakni lempeng Eurasia dan Indo-Australia.
Sementara
terjadinya gempa bumi tektonik di laut hingga menimbulkan tsunami, dampak
pergerakan lempeng serta kerak bumi. “Nah, terjadinya tsunami di Indonesia itu,
pengaruh pertemuan kedua lempeng tersebut. Lokasi pertemuan kedua lempeng itu,
sekitar 200 km arah ke selatan. Dengan pertemuan kedua lempeng ini lah,
Indonesia menjadi daerah rawan gempa dan tsunami,” tutur Subandono.
Dikatakannya,
mengingat pantai selatan Kab. Sukabumi termasuk daerah rawan gempa dan tsunami,
sehingga masyarakat perlu melakukan berbagai upaya mitigasi (memperkecil
risiko) bencana. Seperti halnya, menyelamatkan diri ke sejumlah tempat evakuasi
yang sudah ditentukan. Misalnya, ke daerah perbukitan atau gedung bertingkat
yang banyak rongganya.
“Seperti
masjid yang banyak rongganya, bisa dipakai tempat evakuasi. Upaya lainnya,
dengan menjaga lingkungan hidup. Misalnya menjaga kelestarian hutan pantai
karena bisa meredam gelombang tsunami. Oleh karena itu, penanggulangan bencana
gempa dan tsunami ini tidak bisa perorangan, melainkan harus melibatkan seluruh
masyarakat,” katanya.
Menanggapi
hal itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Sukabumi, Ir. Dedah
Herlina, M.Si., mengatakan, sosialisasi mitigasi bencana itu, bukan berarti
menakut-nakuti masyarakat, melainkan menumbuhkan kesadaran kepada seluruh
masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaannya.
“Hal itu
dengan melakukan upaya antisipasi, seperti mengetahui tempat evakuasi apabila
terjadi bencana. Setelah sosialisasi mitigasi bencana ini, kita bersama Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
lainnya, akan menindaklanjuti dengan membentuk satgas penanggulangan bencana di
lingkungan masyarakat,” kata Dedah.
Artikel
diatas termasuk fungsi pendidikan, karena artikel di atas menginformasikan
mengenai fenomena alam, khususnya yang terjadi di Indonesia. Fenemona alam
tersebut berkaitan dengan pelajaran Geografi. Untuk itu, artikel diatas,
membantu kita untuk mengetahui dan memahami terjadinya tsunami, gempa tektonik.

Comments
Post a Comment